Posted on

Kenapa Pancasila Tidak Diemban oleh Anak Muda Sekarang?

1. Pendahuluan

Pancasila pada zaman globalisasi ini sudah tidak berarti lagi, para pelajar tidak menganggap bahwa itu adalah ideologi negara, yang seharusnya menjadi landasan berpikir mereka dalam keseharian. Mereka hanya menyebutnya pada saat upacara atau saat pelajaran pendidikan kewarganegaraan itu juga kalau disuruh. Dan tidak aneh lagi kalau ada siswa yang tidak hapal, bahkan bukan siswa saja, tapi mahasiswa, para pekerja pun mungkin sudah lupa urutan-urutan pancasila.

Menurut saya wajar kalau keadaan ini terjadi, toh sudah tidak ada contoh buat kita bagaimana orang yang mengemban pancasila dengan baik. Mau dipaksa juga dengan adanya pelajaran kewarganegaraan pun tidak akan bisa meresap kejiwa masing-masing anak muda sekarang. Bukan hanya karena pengaruh globalisasi tapi juga pengaruh dari orang-orang dewasa baik dilingkungannya maupun para petinggi negara yang akhir-akhhir ini dikabari mempunyai perilaku-perilaku buruk, bukan perilaku buruk yang mungkin masih dikategorikan kecil tapi sudah sangat sangat buruk.

2. Pembahasan

Kita bahas dari sila pertama dimana tercantum kalimat “Ketuhanan yang Maha Esa”, ini berarti setiap orang di Negara Indonesia ini memiliki agama dan mentaati agama masing-masing . Tetapi bisa dilihat kebanyakan orang punya agama hanya untuk memenuhi peraturan pemerintah untuk memeluk satu agama, dalam arti hanya agama KTP semata. Tetapi mereka tidak pernah atau jarang beribadah, mungkin malah sangat jarang ke tempat ibadahnya. Berdoapun jarang bagaimana pergi ke tempat ibadah.  Begitu pun dengan kata ESA, berarti kita hanya mempercayai atau bergantung pada tuhan kita tidak dengan mempercayai yang lainnya seperti percaya pada dukun atau mistik, memiliki jimad yang dianggapnya bisa menyelamatinya dan lain sebagainya. Atau pada saat waktunya ibadah mereka melakukan pekerjaan atau kegiatan lain yang akkhirnya membuat mereka lupa akan waktu ibadahnya atau mungkin malah disengaja, orang-orang malah pergi ke mal, nongkrong, meeting, mengerjakan tugas, dan lainnya. Berarti mereka menduakan tuhan mereka dengan kegiatan-kegiatan tersebut.

Sila kedua yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” yang berarti  mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. Apa benar itu yang terjadi sekarang?

Masih ingat kah dengan kasus yang menimpa Nenek Minah yang berusia 55 tahun? Dimana dia hanya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antam (RSA) dan dipenjara 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan (news.detik.com 7/4/2013). Adapula kasus Aguswandi Tanjung yang di masukkan ke penjara selama 87 hari karena dituduh mencuri listrik di lobi suatu bangunan hanya untuk men-charge HPnya. Seorang pelajar SMKN3 Palu dijebloskan ke penjara selama 5 tahun hanya karena andil-andil mencuri sandal yang hanya berharga Rp. 30.000,00 saja(muhammadyosuro.com 7/4/2013). Dan masih banyak lagi. Padahal diberita terungkap bahwa para petinggi Negara korupsi, yang pastinya yang diambilnya itu uang Negara, uang rakyat yang jumlahnya sangat-sangat-sangat besar dibading dengan harga kakao, sandal atau semacamnya. Mereka masih bisa berlenggak-lenggok di gedung DPR atau berjalan-jalan ke mal, nongkrong ya pokoknya berhura-hura, tidak dimasukkan penjara. Ada juga yang dimasukkan penjara tapi prosesnya sangat panjang sampai beritanya membosankan baru di”penjara” atau malah dilepas. Dipenjara pun dapat seperti hotel kamarnya. Ironis sekali.

Sudah tidak berlakulah manusia yang beradab ini. Anak muda pun juga mikir ngapain kita baik beradab, adil kalau para manusia yang seharusnya menjadi contohnya saja tidak melakukannya.

Masuk ke sila ke tiga “Persatuan Indonesia” yang memiki makna menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara, cinta Tanah Air dan Bangsa bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia, memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Sekarang menurut saya bukan buat bangsa dan Negara tapi buat golongan, seharusnya dibalik yah maknanya menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan dan keselamatan golongan dan kepentingan pribadi bukan pada bangsa dan Negara. Itu kayanya lebih tepat pada keadaan sekarang. Dimana partai-partai berlomba untuk merekrut orang-orang berpengaruh sampai ke artis-artis yang tidak punya dasar politik sama sekali. Juga orang-orang itu pindah-pindah partai untuk mendapatkan posisi yang dia inginkan, entah untuk menjadi presiden, anggota MPR dan DPR. Jika hasilnya tidak memuaskan pindah ke partai lain lagi sampai dia mendapatkan yang diinginkan. Abis manis sepah dibuang.

Hampir setiap hari, rakyat yang duduk dihadapan televisi dengan ditemani secangkir kopinya, meliahat ulah Pejabat Negara yang buruk, seolah tak terhentikan. Terjadinya kerusuhan dimana-mana, perampokan merajalela, kasus pemerkosaan, kemiskinan, semua itu adalah imbas dari keburukan-keburukan yang dilakukan oleh para-Pejabat Negara, yang seharusnya bekerja dengn sungguh-sungguh selama masa jabatan aktif, namun mereka lebih memilih mementingkan perut mereka dan kelompok.

Tak ubahnya seperti drama sinetron dalam televisi, saat salah satu anggota partai terlibat suatu kasus, maka partai tersebut pun mencoba mencari-cari keburukan hingga rela melakukan cara licik untuk meruntuhkan partai lainya. Pemandangan ini pun bisa kita lihat dengan mata telanjang dalam media televisi, lihat perdebatan mereka dalam kasus korupsi wisma atlet, century gate, ambalag, pornografi dan kasus-kasus lainya. Kesemuanya itu hanya untuk kepentingan mereka dan golongan tanpa memikirkan bagaimana nasib rakyat yang keleleran mencari makan dan sebagainya.

Sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan”. Memang iya pemilihan para petinggi Negara sampai ketua RT memakai sistem pemilu. Tapi ya hanya pemilu, janji-janji yang diucapkan oleh para calon dan ketika sudah terpilih janji-janji itu lenyap entah kemana. Mereka para petinggi tega menelantarkan amanah konstitusi yang pada dasarnya menjadi ruh bangsa ini. Kemiskinan, minimnya lapangan pekerjaan, sarana transportasi buruk, kehidupan sosial kacau dan lainnya semua itu seolah diabaikan, fakta ini dapat disaksikan pada siaran televisi-televisi swasta hampir setiap harinya.

Masuk ke sila terakhir yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, sepertinya ini tidak dibahas juga sudah pada tahu. Karena ini terasa sekali di kalangan masyarakat apalagi kalangan bawah. Banyak rumah-rumah gedong berdiri, apartemen-apartemen terus dibangun. Yang kaya berhura-hura, berlaku boros tanpa melihat masyarakat kalangan bawah dimana mereka susah untuk mendapatkan uang yang menurut si orang kaya tidak berarti. Mungkin ada yang berpendapat itu salah sendiri, si kaya juga kaya karena kerja kerasnya. Tapi menurut saya tidak sepenuhnya karena kerja keras. Kalau A sebenarnya punya kemampuan untuk mendapat uang lebih dengan naik jabatan atau lain sebagainya, tapi dibanding dengan B yang punya link kebanyakan sekarang yang menang pasti si B. Padahal kalau dilihat kemampuan B beda jauh dengan A.  Lalu para pengusaha kecil yang baru mau serius mengembangkan usahanya, tetapi bentrok atau ada sesuatu masalah yang melibatkan perusahaan yang lebih berkuasa pasti pengusaha kecil itu tidak akan menang. Nah dengan begitu masyarakat kecil tidak akan bisa berkembang. Si kaya makin kaya si miskin makin miskin.

3. Kesimpulan

Mungkin yang saya sampaikan atau jabarkan disini belum semuanya yang terjadi pada bangsa Indonesia ini. Tapi menurut saya dengan apa-apa yang ada di atas bisa memperlihatkan bahwa anak muda tidak memiliki contoh yang akan membuat mereka mengemban pancasila pada jiwanya.

Daftar Pustaka:

http://muhammadyusro.com/2013/01/13/mencuri-sandal-seharga-30-ribu-dihukum-5-tahun/

http://news.detik.com/read/2009/11/19/152435/1244955/10/mencuri-3-buah-kakao-nenek-minah-dihukum-1-bulan-15-hari

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s