Posted on

Tari Lukah Gilo

Nama : Ambar Puspitasari Nur Azmi

NPM: 50412695

 

Tari Lukah Gilo

Sebagai Rekaman Budaya Minangkabau Pra Islam:

Dari Magis Ke Seni Pertunjukan Sekuler

Masyarakat Minangkabau mayoritasnya merupakan pemeluk agama Islam. Yang bisa digolongkan sebagai orang Minangkabau tulen adalah orang Minangkabau yang beragama Islam. Seseorang yang beragama bukan Islam pada hakikatnya bukanlah orang Minangkabau, karena terlepas dari struktur masyarakatnya, juga suatu keganjilan yang mengherankan walaupun kenyataannya kebanyakan dari mereka hanya menganut agama Islam tanpa melakukan ibadahnya.

Meskipun masyarakat Minangkabau hingga sekarang dikenal atau mengaku sebagai penganut Islam yang taat, hanya percaya kepada Tuhan sebagai yang diajarkan oleh Islam, namun masih terdapat aktivitas budaya yang benar-benar bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satu diantaranya adalah tari Lukah Gilo yang hingga kini masih dapat ditemukan dan berkembang di Negari Padang Magek, Sumatera Barat, disamping kepercayaan terhadap kekuatan gaib lainnya.

Aktivitas yang dilakukan terhadap lukah dilakukan secara tertutup, kalaupun ada orang yang menyaksikan, itu bukan berarti sengaja dipertunjukkan. Perkembangan dari lukah gilo hingga sekarang adalah tari Luka Gilo. Penyajiannya melalui proses yang cukup unik, dilakukan berbagai lewat tiga tahap, yaitu:

  1. Proses persiapan dengan menyediakan berbagai macam sesaji untuk memanggil jin
  2. Pementasan yang dipimpin oleh kulipah dengan menghadirkan jin untuk meng-gilo-kan lukah, dan
  3. Penutupan untuk mengembalikan para jin ke tempat semula pada waktu dipanggil.

Dalam melaksanakan pertunjukkan tarian tersebut, dilengkapi dengan beberapa syarat, antara lain menghidangkan sesaji (karena memiliki unsur-unsur supranatural yang berhubungan dengan magis) berupa makanan dan minuman, makanan selingan, ramuan jeruk, kembang, darah ayam, dupa, dan sebagainya. Semua bahan-bahan dan sesaji tersebut dimantrai oleh kulipah untuk mendatangi kekuatan para jin.

Lukah Gilo pada awalnya unsur seni lain, seperti musik, vokal, dan instrumen. Pada perkembangan selanjutnya, unsur seni digunakan, yaitu musik pengiring dan busana yang sesuai, bahkan lukah pun ditarikan sehingga disebut dengan tari Lukah Gilo. Karen tujuannya sudah berubah tidak hanya untuk magis semata, akan tetapi untuk hiburan yang ditonjolkan.

Tari Lukah Gilo mengalami penggarapan atau oerkembangan yang mencolok, baik dari segi fungsi maupun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pada awalnya Lukah Gilo tidak ada busana, tidak ada musik, mantera tidak didendangkan, dan yang pasti tidak dipertontonkan pada khalayak umum. Akan tetapi pada tahap pertunjukkan selanjutnya dikemas dengan mentransformasikan unsur-unsur budaya yang ada pada masyarakat.

pertunjukkan tari Lukah Gilo merupakan sarana ekspresi para seniman. Mereka menampilkan kebolehan, baik hal keterampilan dalam berseni maupun keterampilan dalam hal gaib. Hal ini berarti para seniman telah melakukan upaya pelestarian terhadap budaya Minangkabauyang sudah ada jauh sebelum masuknya Islam. Sesuatu yang tidak dapat dihindari bahwa kesenian yang berhubungan dengan “iblis/jin” ini harus dilenyapkan dari muka bumi karena tidak sesuai dengan Islam. Akan tetapi tidak bisa disangkal pula bahwa budaya ini pernah ada, dilaksanakan oleh para pendahulu, serta sudah melekat pada masyarakat Minagkabau sehingga perlu dilestarikan.

Pada Lukah Gilo ini terdapat mantera. Mantera menunjukkan bahwa jin yang dipanggil berada dibawah kekuasaan kulipah, didalam mantera terdapat kata-kata: datanglah, aku suruah, aku sarayo. Dalam sesaji ada sebuah pisau yang melambangkan bahwa jin bertuhankan kulipah, hal ini sesuai dengan konsep kafir. Berarti ketika melakukannya kulipah mengaku bahwa dia sedang menjadi kafir.

Aktivitas ini menimbulkan dualisme: dalam satu sisi, mereka menjalankan aktivitas budaya warisan nenekmoyang yang bertentangan dengan agama Islam, di sisi lain mereka mengklaim diri sebagai orang Minagkabau yang beragama Islam. Bahkan terjadi serba salah sebagai orang Minagkabau terbebani untuk melestarikan budaya tapi sebagai umat Islam wajib menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama.

Eksistensi tari Lukah Gilo masih diakui oleh masyarakat Minagkabua hingga kini. Oleh karena alasan-alasan budaya, kini lukah gilo tidak diterjemahkan sebagaimana arti harfiahnya, namun diterima sebagaimana bagiand ari seni pertunjukkan yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum, boleh dikenal, dan layak ditampilkanpada kesempatan tertentu.

 Sumber:

Desfiarni.Tari Lukah Gilo Sebagai Rekaman Budaya Minangkabau Pra Islam: Dari Magis Ke Seni Pertunjukan Sekuler.Yogyakarta:Kalika,2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s